Tuesday, March 26, 2013

Yahoo acquires mobile news start-up Summly

 Yahoo Inc has snapped up mobile news aggregator Summly, the latest in a string of small acquisitions intended to bolster the Web portal's mobile services.

Summly, founded by 17-year-old Nick D'Aloisio two years ago from his home in London, sorts news by topics in quick bites for smartphones. The start-up works closely with News Corp and is backed by Chinese investor Li Ka-Shing and angel investors including actor Ashton Kutcher and artist Yoko Ono.
Terms of the deal were not disclosed, though technology blog AllThingsD reported that Yahoo paid roughly $30 million, citing anonymous sources.
D'Aloisio said Yahoo would use the technology that powers Summly to reinvent the delivery of information such as news, weather, stocks and finance for mobile devices.
"What I am excited about with Yahoo is under the new leadership of Marissa Mayer, it's a classic Internet company that has such a big opportunity," he told Reuters.
Yahoo said it will shut down the Summly app but will integrate the company's natural language processing and machine-learning technology across Yahoo's various online services, particularly Yahoo's line-up of mobile services.
Yahoo Chief Executive Mayer is stepping up the company's efforts to build online services for the smartphones and tablets that consumers increasingly use to access the Web. Yahoo has acquired a handful of small, mobile start-ups since Mayer took over in July, though the company has yet to do any large acquisitions.
Three Summly employees will join Yahoo as part of the deal, which is expected to close in the second quarter, according to Yahoo Senior Vice President of Mobile and Emerging Products Adam Cahan. Summly founder D'Aloisio will remain in London and be Yahoo's youngest employee, Cahan told Reuters.
D'Aloisio, a pupil at King's College School, said he was unperturbed about moving from a start-up to multinational.
"I'm looking forward to it because they've built a really great environment for start-ups and founders," he said.
He said he planned to invest his multi-million pound windfall, although he added that due to his age, he "could not really touch it" yet.

Friday, March 15, 2013

Aplikasi teknologi RFID untuk Perpustakaan

Tentunya kita semua tahu perpustakaan adalah tempat dimana kita bisa meminjam buku baik itu di sekolah atau perpustakaan kota atau daerah. Seiring berkembangnya teknologi dan modernisasi suatu perpustakaan, efisiensi, kecepatan dan akurasi dibutuhkan dalam mengatur buku-buku maupun media lainnya yang ada di perpustakaan. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa manajemen system yang baik pada perpustakaan bisa meningkatkan efisiensi, kecepatan dan akurasi dari pengaturan buku atau media maupun tingat mobilitas "transaksi" pada perpustakaan itu sendiri. Biasanya perpustakaan modern sudah menggunakan teknologi Barcode dan bantuan komputer dalam mengolah database buku atau media yang mereka miliki. Seiring dengan kemajuan jaman, teknologi bergeser kearah yang lebih baik dan lebih maju. 

Teknologi RFID saat ini mulai ramai dibicarakan bahkan digunakan oleh perpustakaan modern saat ini, meskipun tidak menutup kemungkinan, digunakan bersama dengan teknologi barcode. Teknologi RFID mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada teknologi barcode. Kemampuan RFID untuk pengaturan buku dan otomasi transaksi peminjaman atau pengembalian buku (media) pada perpustakaan lebih baik dari teknologi barcode, karena bisa dilakukan secara mandiri, bahkan tanpa bantuan operator atau petugas perpustakaan. 

Untuk mengaplikasikan teknologi RFID dalam perpustakaan modern, sebaiknya dilakukan secara bertahap , sehingga transisi tidak akan terasa dan tidak mengganggu kerja dari system perpustakaan yang ada. Misalkan perpustakaan sekolah ABC sudah menggunakan komputer untuk manajerial buku-buku koleksinya , dan memanfaatkan barcode scanner untuk mempermudah transaksi peminjaman dan pengembalian buku atau media tersebut. 

Secara garis besar yang dibutuhkan adalah tagging buku atau media di perpustakaan, hardware pembaca dan atau penulis tagging RFID dan software interfacing atau interfacing ke database yang sudah ada. Jadi bisa diringkas untuk hardware RFID ada 2 jenis: 
- stiker/label tag untuk buku ( tag yg lain untuk media lain juga) 
- Desktop Reader/Writer untuk membaca/menulis informasi pada RFID tag 

Sedangkan dari sisi software, secara umum hanya interfacing antara hardware RFID dengan database yang sudah ada. 

Dengan tahapan investasi awal yang minim ini, maka proses transisi diharapkan akan berjalan dengan mulus. Desktop RFID reader/writer di program terlebih dahulu sehingga sinkron dengan database software perpustakaan yang ada (interfacing proses). 

Tahapan pengerjaan berikutnya adalah buku-buku atau media yang dikoleksi perpustakaan ditempel dengan tag RFID dan diisi informasi oleh desktop writer/reader, melalui cara upload dari database PC atau scan barcode atau manual diketik via PC. Buku yang sudah ditempel stiker RFID dan sudah di isi data via RFID Writer siap di sirkulasikan dengan teknologi RFID. 

Meminjam atau mengembalikan buku, cukup dengan mendekatkan buku ke Desktop RFID reader dengan bantuan petugas perpustakaan. 

Pengembangan selanjutnya adalah otomasi dan manajerial total dimana implementasi teknologi RFID dilakukan secara terintegrasi dan terotomasi penuh, sehingga petugas perpustakaan bisa dikurangi atau bahkan tidak diperlukan selama transaksi peminjaman atau pengembalian buku/media perpustakaan. Dalam tahapan ini ada beberapa hardware RFID yang dibutuhkan, disamping pengembangan software tentunya. 

Adapun hardware yang dibutuhkan adalah : 
-Gate reader yang support EAS, dipasang pada pintu keluar-masuk perpustakaan 
-Robust RFID multi tag reader untuk anjungan peminjaman mandiri atau drop box pengembalian 
-Handheld RFID untuk manajemen dan pencarian buku langsung pada rak di perpustakaan 

 Adapun proses perpustakaan modern seperti terlihat pada demo video di bawah ini:

Dengan bantuan teknologi RFID ini diharapkan mampu menghemat waktu dan tenaga, baik itu dari segi pengguna maupun petugas perpustakaan itu sendiri. 
Artikel ini dipublikasikan oleh http://rfid.rosesana.com in English

Tuesday, March 05, 2013

Bartendro robot mixologist crafts cocktails with Raspberry Pi

Cocktails may never be the same again. Robot can handle up to 15 bottles of booze and mixers and can dispense precision cocktails in less than 10 seconds.

Some tasks are better left up to computers, like playing "Jeopardy," calculating pi, and mixing cocktails. Wait ... mixing cocktails? If you don't think a computer can whip up a compelling cocktail, then you haven't met Bartendro.
A creation of the awesomely named company Party Robotics, Bartendro is a robot mixologist crafted from peristaltic pumps, Raspberry Pi, custom electronic dispenser boards, and food-grade tubing. It may simultaneously be the least-necessary and most-desirable robot in the world.
The cocktail-dispensing machine can turn out a drink in less than 10 seconds. It can churn out 200cocktails in an evening -- and it won't break a sweat, take a bathroom break, or hit on your girlfriend. Don't worry, you can still sit there and tell it all your problems. It won't interrupt and it won't judge you.
Perhaps the best part of Bartendro is that it's not relegated to a lab somewhere far away where you'll never get to bask in its boozy glory. It's on Kickstarter. Early backers can get in on a Shotbot for $249, a working robot that dispenses shots from a single bottle.
Let's be realistic, though. You won't be satisfied with just a Shotbot. You're going to want to move up the pledge ranks and jump straight to the $2,499 level for a 15-bottle Bartendro. You just need to provide a tablet or smartphone to tell it what to do. Sure, the smaller Bartendros cost a lot less money, but for sheer overpowering robotic cocktail mayhem, you can't beat a Bartendro 15.
Let's raise a glass to Bartendro. I'm hoping it reaches its $135,000 goal, and Party Robotics is able to put the machines into wider production. If I had one of these, I would never leave my house again.